Minggu, 25 Desember 2011

Al-Israiliyat



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Tujuan
-            Kita dapat mengetahui pengertian Al-Israiliyat.
-            Kita mengetahui sebab-sebab Al-israiliyat.
-            Kita mengetahui apa pendapat ulama tentang Al-Israiliyat.



DAFTAR ISI

Kata Pengantar……………………………………………………………………...
BAB I : Pendahuluan……………………………………………………………….
A.    Tujuan Penulisan
B.     Daftar Isi
BAB II : Pembahasan ……………………………..……………………………….
Al-Israiliyat
A.    Pengertian Al-Israiliyat
B.     Sebab dan Sumber Al-Israiliyat
C.     Sikap Ulama Terhadap Al-Israiliyat
BAB III : Penutup…………………………………………………………………..
A.    Kesimpulan
B.     Daftar Pustaka



BAB II
PEMBAHASAN
ISRAILIYAT
1.      Pengertian Israiliyat
Kata Israiliyat adalah bentuk Jamak dari kata Israi Liyat. Israiliyat merupakan cerita yang di kisahkan dari sumber Israil, yaitu Yakub dan Ishak Bin Ibrahim, yang mempunyai keturunan 12, yang dinyatakan sebagai Yahudi adalah juga Bani Israil.
Perkataan Israiliyat walaupun pada mulanya menunjukan kisah-kisah yang diriwayatkan dari sumber Yahudi, tetapi di gunakan juga oleh ulama Tafsir dan Hadist dengan membenarkan sebagian cerita-cerita Yahudiyah, bahkan lebih luas dari pada itu. Israiliyat dalam istilah mereka menunjukan semua cerita lama yang masuk kedalam Tafsir dan Hadist yang bersumber dari Yahudi dan Nasrani atau selain keduanya.
Sesunggunya para ulama membenarkan Tafsir dan Hadist yang menyatakan bahwa Israiliyat itu bersumber dari Yahudi berdasarkan kebiasaan dan diminannya orang-orang Yahudi dalam menyebar luaskan cerita-cerita palsu. Orang-orang Yahudi adalah kaum pendusta. Maka sangan benci dan memusuhi Islam dan kaum Muslimin.
Orang Yahudi adalah ahli kitab yang banyak bergaul dengan orang Islam. Peradabannya paling tinggi di bandingkan dengan lainnya. Demikian pula tipu daya yang dugunakan untuk menghancurkan ajaran Islam, yang merupakan tindakan sangat berbahaya, Abdullah bin Saba adalah tokoh penyebar fitnah dan kesesatan. Dan masih banyak lagi yang saling membantu untuk menghancurkan Islam.


2.      Sebab-sebab Penggunaan Israiliyat
Sebenarnya cerita merembesnya cerita-cerita Israiliyat kedalam Tafsir dan Hadist di dahului oleh masuknya kebudayaan Arab zaman Jahiliyah. Bangsa arabpada zaman Jahiliyah sering berpindah-pindah kea rah timur maupun ke barat. Bangsa Quraisy mempunyai dua tujuan dalam bepergian. Bila musim panas mereka pergi ke Syam dan bila musim dingin mereka pergi ke Yaman. Pada waktu itu di Yaman dan Syam banyak sekali Ahli kitab yang sebagian besar adalah bangsa Yahudi. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila antara orang Arab dengan Yahudi terjalin hubungan.
Sering terjadi pertemuan antara kaum muslimin dengan orang yahudi  dan sering pula terjadi diskusi dan perdebatandi antara mereka.
Merembesnya Israiliyat dalam Tafsir dan Hadist secara meluas itu karena ….. diketahui oleh para ulama, bahwa Tafsir dan Hadist itu memiliki periode yang berbeda,  pertama periode periwayatan, kedua periode pembukuan.
a.       Periode Periwayatan Tafsir
Rasulullah nergaul dengan para sahabatnya dan memberi penjelasan kepada mereka tentang urusan agama dan dunia yang dianggap penting oleh mereka atau dianggap penting oleh Nabi. Penjelasan Nabi itu mencakup Tafsir-tafsir ayat Qur’an yang dianggap masih samar oleh para Sahabatnya.
Para sahabat, memperhatikan dan menghafal penjelasan Nabi tersebut, kemudian mereka menyampaikan kepada saudara-saudaranya yang tidak hadir dalam mejelis Nabi dan juga kepada murid-muridnya dan sampai pada tabi’in. tabi’in meriwayatkan apa yang mereka terima dari para sahabat kepada tabi’in lainnya. Dan juga mereka menyampaikan kepada para muridnya sampai generasi tabi’it tabi’in.
b.      Periode Pembukuan Tafsir
Periode ini berakhir pada akhir abad pertama dan awal abad kedua Hijriah.
Awal dari pembukuan Tafsir dan Hadist tersebut adalah :
1.      Katika Umar bin Abdul Aziz memerintahkan semua biama di seluruh dunia untuk mengumpulkan Hadist-hadist Rasul yang menurut anggapan mereka sama.
Pembukuan Tafsir dan Hadist pada periode ini dilakukan dengan cara mengemukakan riwayat di sertai dengan sanadnya sehingga dimungkinkan untuk mengetahui mutu yang diriwayatkan, baik sahih maupun daifnya, dengan cara meneliti Sanadnya.

c.       Periode Periwayatan Hadist
Pada periode ini cerita Israiliyat merembes kedalam Tafsir dan Hadist atau dalam waktu yang sama secara berbarengan. Hal ini terjadi karena pada mulanya Tafsir dan Hadist merupakan satu kesatuan yang tidak bisa di pisahkan masalah ini terjadi pada zaman sahabat, mereka membaca Qur’an yang didalamnya terdapat kisah-kisah dan berita-berita mereka melihat, bahwa Qur’an menceritakan kisah tersebut hanyalah dalam batas nasihat dan Ibarah,
Kemudian datanglah periode Tabi’in. pada periode ini penukilan dalil ahli kitab semakin luas dan cerita-cerita Israiliyat di dalam Tafsir dan Hadist semakin berkembang.
Kemudian setelah masa tabi’in tumbuh kecintaan yang luar biasa terhadap cerita Israiliyat dan diambilnya secara ceroboh sehingga setiap cerita tersebut tidak ada lagi yang di tolak. Mereka tidak lagi mengembalikan cerita itu kapada Qur’an walaupun tidak dimengerti oleh akal.
Perlu juga diperhatikan bahwa mereka yang menekuni Tafsir dan Hadist pada periode ini adalah mereka yang suka berkisah kepada masyarakat di mesjid-mesjid dan di tempat-tempat lainnya.
d.      Periode Pembukuan Hadist
Pada periode ini. Sebagaimana sudah kita ketahui, hadist dibukukan dengan bantuan ilmu lain yang bermacam-macam dan tafsir pun termasuk salah satu bagian di padanya. Secara umum tafsit pada masa ini bersih dari cerita-cerita Israiliyat, kecuali sedikit saja, itupun itupun tidak bertentangan dengan Nash Syar’i.
Tafsir terpisah dari hadist, dan masing-masing di bukukan  sendiri-sendiri, maka tafsir yang dibukukan pertama kalinya diterangkan juga sanad-sanadnya, akan tetapi cerita-cerita Israiliyat yang dibukukan jumlahnya tidak sedikit.
Setelah itu datanglah masa di mana ulama membukukan tafsit dan hadist dengan membuang sanad-sanadnya dan kelihatannya tidak adan ketelitian yang mendalam terhadap apa yang mereka tulis itu.

3.      Pandangan Ulama Terhadap Israiliyat
Cerita Israiliyat yang sesuai dengan syariat, tidak dibenarkan dan kita boleh meriwayatkannya. Tetapi bertentangan dengan syariat, harus ditolak dan diharamkan meriwayatkannya. Kecuali untuk menerangkan kesalahannya. Cara meriwayatkannya hanyalah sekedar mengemukakan hikayatnya saja, sebagaimana terdapat didalam kitab-kitabnya. Tanpa melihat cerita itu salah ataupun benar.
1)      Pendapat Ibnu Taimiyah
Didalam mukoddimah kitabnya pokok-pokok ilmu tafsir, Ibnu Taimuyah, setelah mengemukakan bahwa Abdullah bin Amr bin As pada perang Yarmuk mendapatkan 2 orang teman ahli kitab lalu menerima hadist dari keduanya karena mamahami hadistnya.


“sampaikanlah oleh kamu sekalian dariku walaupun satu ayat dan ceritakanlah dari bani Israil yang demikian itu kalian tidak berdosa”
Seolah-olah hadist itu mengizinkan periwayatan cerita Israiliyat kemudian (Ibnu Taimiyah) menyatakan “akan tetapi hadist-hadist Israiliyat tersebut dikemukakan untuk menjadi saksi dan bukan untuk di yakini”
Cerita Israiliyat terbagi menjadi 3 bagian :
1.      Kita ketahui kesahihhannya dan dibenarkan dengan ajaran yang ada pada diri kita. Cerita Israiliyat itu adalah Sahih (benar)
2.      Kita ketahui kedustaannya, karna bertentangan dengan apa yang ada pada diri kita.
3.      Di diamkan, di benarkan tidak, di dustakan pun tidak. Jangan mengimaninya dan jangan pula membohongkannya. Cerita tersebut boleh diriwayatkan berdasarkan alasan yang telah diriwayatkan.

2)      Pendapat Baga’i
Iman Baga’i telah berpendapat di dalam kitabnya “Al-Aqwal Al-Qawimah Fi Mukmin-Naqi (pendapat-pendapat yang lurus di dalam menukil kitab-kitab terdahulu.
Hukum penuklikan cerita dari bani Israil yng tidak dibenarkan dan juga tidak didustakan oleh kitab kita. Adalah di perkenankan walaupun apa yang dinuklikan tidak tetap. Demikian pula Nukitan dari selain ahli kitab, yaitu dari pemeluk agama-agama yang batil karena tujuannya hanyalah ingin mengetahui bukan untuk dijadikan pegangan. Berbeda dengan apa yang dijadikan dalil di dalam Syariat kita, karena syari’at merupakan tiang utama di dalam berhujjah dan beragama, harus jelas keterangannya (keabsahannya). Dalil-dalil tersebut menurut pendapat kami terbagi dalam 3 bagian :
-            Dalil-dalil maudu’ bukan pula daif.
-            Dalil yang mutlak daif tidak bisa di jadikan Hujjah.
-            Daif yang dipegang yaitu untuk menumbuhkan kegemaran beramal (targib) maudu’ dikemukakan untuk mengingatkan bahwa masalah tersebut dusta.
Apabila kita membandingkan apa yang dinuklikan oleh ulama kita, ahli agama Islam, di dalam berdalil masalah syari’at dengan apa yang daif du nuklikan  oleh ulama ahli kitab. Maka gugurlah bagian yang ketiga tersebut di dalam menukil riwayat dari mereka, dan apa yang tetap menjadi hujjah, sesungguhnya tidak bisa dinuklikan dari mereka. Hukum yang telah di absah dari hukum-hukum kita. Dan tetaplah apa yang dibenarkan oleh kitab kita. Boleh meriwayatkannya, walaupun apa yang tetap itu tidak berada dalam ruang lingkup memberi nasihat. Sedangkan apa yang didustakan oleh kitab kita, maka sama dengan hadist maudu’, maka tidak boleh menuklikannya kecuali jika disertai penjelasan tentang kebatilannya.
3)      Ibnu Katsir ( W – 774 H)
1.      Cerita-cerita yang sesuai dengan kebenarannya dengan Al-Qur’an. Berarti cerita itu benar.
2.      Cerita yang terang-terangan dusta, karena menyalahi ajaran Islam. Harus ditinggalkan karena merusak Akidah.
3.      Cerita yang didiamkan. Tidak ada ketentuannya dalam Al-Qur’an, tetapi juga tidak bertentangan dengan Al-Qur’an.

4)      Ibnu Al-‘Arabi ( W – 543 H )
Menurutnya bahwa dari Israil yang boleh untuk diriwayatkan dan dimuat dalam Tafsir Al-Qur’an adalah hanya terbatas pada cerita mereka yang menyangkut keadaan dari mereka sendiri. Sedangkan riwayat yang menyangkut orang lain masih sangat perlu dipertanyakan dan butuh penelitian lebih cermat.
5)      Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas ( W – 32/3 H : 68 H)
Kedua tokoh ini mengatakan bahwa meriwayatkan kisah-kisah Israiliyat tidak boleh.
6)      Abdullah bin A’Amru bin Al-‘Ash ( W – 63 H )
Dalam perang Yarmuk beliau menemukan beberapa kitab Yahudi dan Nasrani lalu diambilnya dan dipelajarinya baik-baik, setelah itu dipahaminya, dan diceritakannya kepada saudara-saudaranya kaum Muslimin dengan berdasarkan Hadist di atas.
Tujuan beliau menceritakan bukan untuk dasar i’Tiqad bukan pula untuk dasar hukum.
Dari 6 kelompok orang tersebut, hanya Ibnu Al-‘Arabi yang sangat berhati-hati dalam mengambil dan memasukan Israilliyat dalam Tafsir Al-Qur’an.



BAB III
KESIMPULAN

1.      Riwayat Israiliyat yang diketahui kesahihhannya, mengenai nabi musa yang bernama nabi Khaidir nama itu tercantum dalam sahih iman Bukhari. Riwayat serupa ini dapat diterima
2.      Riwayat israiliyat yang diketahui kebohongannya, bertentangan dengan ajaran islam dan akal pikiran yang sehat, wajib ditolak.



DAFTAR PUSTAKA

Ad –    Damasyiqi, Ismail bin Katsir Al-Qorsyi, Tafsir Al-Quranul Adzim, Darul
Fikri, Beirut, 1969
AL -    Maraghi, Ahmad Musthofa, Tafsir AL-Maraghi, Beirut, 1974

Tidak ada komentar: